Kamis, 07 Juli 2011


Menjadi mahasiswa apatis atau aktivis
Oleh : Robbi Sunarto

Saat seseorang masuk keperguruan tinggi, maka disaat itulah pilihan menjadi mahasiswa apatis atau aktivis datang menghampiri. Pilihan menjadi aktivis datang dan ditawarkan oleh organisasi kampus. Dengan berbagai cara organisasi-organisasi kampus berusaha untuk dapat membuat mahasiswa baru tertarik untuk bergabung dengan organisasi mereka. Karena memang salah satu tujuan organisasi kampus adalah menjaga agar organisasi yang mereka naungi dapat tetap eksis. Sedangkan pilihan menjadi mahasiswa apatis adalah disebabkan menyebarnya virus hedonisme dikalangan mahasiswa. Virus ini menyebabkan mahasiswa tidak peduli dengan lingkungan sekitar mereka, mereka hanya memikirkan diri sendiri untuk mendapatkan kepuasan yang sebesar-besarnya untuk diri mereka sendiri.
Sebelum memilih untuk menjadi mahasiswa apatis atau mahasiswa aktivis tentunya mahasiswa baru ingin tahu apa itu mahasiswa apatis dan apa itu mahasiswa aktivis. Mahasiswa apatis adalah sosok mahasiswa yang tidak peduli dan tidak mau tahu tentang permasalahan yang terjadi diluar dirinya. Mahasiswa apatis hanya memikirkan aktifitas perkuliahannya saja. Segala sesuatunya selalu diukur dengan pencapaian kredit mata kuliah dan indeks prestasi yang tinggi serta berupaya menyelesaikan kuliah dalam waktu yang sesingkat-singkatnya. Mahasiswa seperti ini setiap ada kegiatan kampus, permasalahan kampus, ataupun hal-hal lainnya cendrung tidak mau tahu. Misalnya saat ada kegiatan pemilihan raya kampus untuk memilih ketua BEM, banyak mahasiswa yang hanya melihat saja saat orang memilih. Disaat diajak mereka masih juga tidak mau memilih
Lalu siapa yang disebut mahasiswa aktivis, apakah harus ikut organisasi?. Mahasiswa aktivis adalah mahasiswa yang peduli terhadap lingkungan sekitarnya. dia tak hanya memikirkan aktifitas studinya melainkan juga memikirkan permasalahan yang terjadi dikampus ataupun dimasyarakat. Keaktifan di organisasi ini biasanya dilandasi oleh bakat, hobi, tuntutan jiwa organisasi dan kepemimpinan, tuntutan sosial atau bisa jadi karena pelarian dari aktivitas perkuliahan yang kadang dianggapnya membosankan. mahasiswa aktivis memang tidak harus memasuki organisasi, mahasiswa bisa menjadi aktivis melalui tulisan-tulisan yang dibuatnya mengenai permasalahan-permasalahan yang terjadi atau sering berpartisipasi dalam kegiatan-kegiatan yang berlangsung dikampus. Namun memang menjadi mahasiswa aktivis lebih baik diwadahi oleh sebuah organisasi.
Sekarang setelah mengetahui apa itu mahasiswa apatis dan mahasiswa aktivis. Sekarang terserah anda mau memilih yang mana. Apakah anda mau menjadi dan disebut mahasiwa apatis atau menjadi dan disebut mahasiswa aktivis.






Senin, 20 Juni 2011

NII dan Sejarahnya ( Diskusi Pohon Rindang/DPR)

Sabtu (14/5). Bertempat di bawah pohon rindang dibelakang parkir utama fakultas ekonomi Universitas Riau (UR) tepatnya dikawasan Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA). Lembaga Pengkajian Ilmiah dan Informasi (LPII) dengan kepengurusan baru kembali melaksanakan DPR (Diskusi Pohon Rindang) yang mengangkat tema Negara Islam Indonesia (NII) masuk kampus dan yang menjadi narasumber adalah yosi kurnia miharja, mantan direktur eksekutif LPII FE UR.
Dalam diskusi tersebut Yosi menjelaskan tentang sejarah terbentuknya NII, ia mengatakan bahwa NII lahir sebagai efek dari kekecewaan umat islam terhadap kaum nasionalis yang membawa Negara Indonesia kepada bentuk Negara sekuler. NII dahulu terletak di jawa barat dan pada saat itu jawa barat mengalami kekosongan kekuasaan akibat agresi militer belanda. Pada saat kekosongan itu NII memproklamasikan kemerdekaannya. Jadi tidak benar NII Kartosuwiryo memberontak kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), namun dia memberontak kepada belanda yang melancarkan agresinya, artinya adalah bahwa NII Kartosuwiryo tidaklah benar mendirikan negara dalam negara, sabagaimana yang banyak orang tuduhkan yaitu Kartosuwiryo melakukan Makar.
Berkaitan dengan NII KW 9 yang hangat diperbincangkan sekarang, Yosi mengatakan bahwa jika ajaran-ajaran yang disampaikan misalnya tidak diwajibkan sholat karena belum menjadi Negara islam, hal tersebut jelas sesat, dan hal tersebut berbeda dengan NII yang diperjuangkan oleh kartosuwiryo berserta umat islam saat itu. Yosi mengatakan bahwa jika NII KW 9 mengajarkan ajaran yang sesat seperti yang disampaikan tadi maka NII KW 9 tersebut merupakan NII palsu, karena NII yang asli yaitu NII Kartosuwiryo ajarannya berdasarkan Quran dan Sunnah, jadi tidak ada penyelewengan ajaran islam.
Berkaitan dengan NII yang hangat diberitakan saat ini, yosi mengingatkan bahwa hati - hati terhadap permainan intelejen yang berniat untuk mengadu domba umat islam maupun merusak citra islam yosi juga mengingatkan sebagai umat islam kita harus hati-hati terhadap provokasi yang dilakukan oleh pihak-pihak tertentu yang ingin menghancurkan islam.
Selanjut sebagai penutup yosi mengingatkan, NII yang tidak sesuai ajaran Islam kita semua harus menjauhinya. Sedangkan NII yang diperjuangkan oleh kartosuwiryo pada masa dahulu saudara-saudara boleh saja tidak setuju dengan perjuangannya, tetapi sebagai umat islam saudara jangan menjelek-jelekan mereka, sebab niat mereka adalah karena Allah Ta’ala dan kemajuan Islam. Wallahu A’lam Bishowab.Robbi Sunarto

Siapkan Dirimu Jelang Interview

JAKARTAInterview merupakan tahapan penting yang menentukan peluangmu untuk diterima menjadi karyawan di suatu perusahaan.
Berbagai persiapan perlu dilakukan demi suksesnya sebuah interview, mulai dari persiapan fisik seperti baju, rias wajah, dan tata rambut, maupun persiapan mental terkait pengendalian rasa gugup dalam menghadapi para pewawancara.

Berikut beberapa panduan dari College Candy yang dapat kamu contoh ketika memiliki janji interview:

Kenakan pakaian yang sesuai. Pemilihan pakaian ketika interview menjadi penilaian tersendiri bagi pihak perusahaan. Kenakanlah pakaian yang rapi, layak, dan nyaman untuk interview, sebab, pakaian yang kamu kenakan menjadi cermin kepribadianmu.

Tidak perlu berlebihan. Meninggalkan kesan positif ketika interview memang sangat penting. Namun, rias wajah dan pakaian yang berlebihan untuk suatu proses interview dapat meninggalkan kesan buruk pada pihak perusahaan.

Jangan datang terlambat! Datang tepat waktu sesuai dengan janji temu yang ditetapkan mengindikasikan bahwa kamu adalah orang yang disiplin waktu serta menjadi nilai tambah bagimu di hadapan pewawancara.

Lakukan kontak mata dengan pewawancara. Selama waktu interview, kamu diberi kesempatan untuk menunjukan kepribadian melalui cara bicara dan kontak mata dengan peawancara. Maka tunjukan bahwa kamu adalah kepribadian yang mereka butuhkan untuk mengisi pekerjaan tersebut.

Kirimkan ucapan terima kasih karena telah diberikan kesempatan untuk interview. Hal yang jarang dilakukan ini dapat membantu pewawancara untuk mudah mengingatmu.

Jaga hubungan baik dengan mantan pewawancara. Jangan kecewa jika belum diterima dalam suatu kesempatan interview. Dengan menjaga hubungan baik dengan mantan pewawancara, kamu bisa memperlebar jaringan sehingga dapat memberikan tambahan informasi saat ada lowongan pekerjaan lain.

Semoga sukses!
(rhs)
Margaret Puspitarini

Banyak Cara Biayai Kuliah

JAKARTA - Meski banyak kampus asing menawarkan beasiswa, tidak jarang juga kampus yang memiliki keterbatasan dalam program bantuan keuangan bagi mahasiswanya. Jangan khawatir, banyak yang bisa kamu lakukan untuk meringankan beban biaya kuliahmu.

Associate Dean dari Iowa State University (IUS) Linda Serra Hagedorn dalam kunjungannya ke Indonesia baru-baru ini menjelaskan, bantuan keuangan dalam bentuk pinjaman biasanya diberikan untuk mahasiswa warga negara Amerika.
Ketika ditemui usai presentasi tentang kehidupan perkuliahan di kampusnya, di Gedung Aminef, Jakarta, Hagedorn menjelaskan, beasiswa bagi pelajar internasional memang tersedia, namun terkadang sulit dicari dan itu pun tidak bersifat beasiswa penuh.

Hagedorn memaparkan, melakukan riset di internet tentang beasiswa memang penting, tapi calon mahasiswa sebaiknya tidak berhenti sampai di situ. "Anda harus lebih proaktif, bicaralah dengan orang-orang di kampus. Tanyakan secara spesifik bantuan beasiswa yang Anda butuhkan. Mendapatkan beasiswa penuh memang agak sulit, tapi beasiswa parsial akan lebih mudah didapatkan," kata Hagedorn kepada okezone

Pengampu berbagai mata kuliah sains ini menambahkan, salah satu cara yang bisa kamu tempuh adalah, bekerja di kampus. Dengan bekerja di kampus, kamu akan mendapatkan bayaran yang bisa kamu pergunakan untuk biaya hidup sehari-hari atau untuk kebutuhan lainnya.

"Selain itu, dengan bekerja di kampus, kamu akan bertemu banyak orang dan membuka kemungkinan akses informasi untuk mendapatkan beasiswa atau bantuan keuangan yang kamu butuhkan," Hagedorn mengimbuhkan.

Dia menjelaskan, mencari pekerjaan di kampus bukanlah kompetisi mahasiswa domestik atau asing, tapi kompetisi kemampuan tiap mahasiswa. Hagedorn meyakinkan, pihak kampus akan mempekerjakanmu jika kamu memenuhi kualifikasi mereka. Biasanya, mahasiswa yang bekerja di kampus membantu dalam bidang administrasi, penelitian, dan berbagai pekerjaan lainnya.  

"Komunikasi yang baik juga akan menjadi nilai lebih di mata perekrut pegawai kampus. Tunjukkan ke mereka bahwa bahasa Inggris bukanlah penghalang Anda untuk bekerja. Anda bisa juga mengirimkan contoh tulisan kepada mereka sebagai bahan pertimbangan," imbuhnya.

Bekerja di luar kampus, kata wanita bermata coklat ini, tidak diperbolehkan bagi mahasiswa asing. "Sebab, visa yang mereka miliki adalah visa pelajar," imbuhnya.(rfa)
Rifa Nadia Nurfuadah

OPINI : Mahasiswa Hanya Mengejar Gelar

MELIHAT realitas yang terjadi, khususnya di kalangan perguruan tinggi, mayoritas mahasiswa masih belum mampu memahami identitas sosialnya. Yakni, sebagai generasi dengan sikap progresif dan militansi cukup signifikan untuk mendorong perubahan masyarakat.

Kebanyakan mahasiswa hanya sibuk dengan tugas yang diberikan oleh dosen. Mereka jarang terlibat kegiatan-kegiatan di masyarakat, sehingga tidak mengerti perkembangan di masyarakat itu sendiri.

Mahasiswa harus mampu menyeimbangkan diri terhadap kondisi sosial masyarakat, sehingga kegiatan di kampus tidak semata-mata kuliah  dan kemudian pulang mengerjakan tugas-tugas yang diberikan dosen. Di balik itu semua, mahasiswa mempunyai tugas dan peran yang penting dalam masyarakat, terutama untuk kemajuan negara Indonesia.

Fakta yang terjadi di kalangan mahasiswa sekarang sangat berlawanan dengan pandangan masyarakat pada umumnya, tidak memiliki harkat dan martabat tinggi. Karena masih banyak lulusan mahasiswa yang sulit mencari kerja dan bertindak anarkis yang kurang mencermikan agen perubahan.

Pembangunan idealisme akan kesadaran kritis bukanlah yang bersifat progresif terhadap realitas. Peran mahasiswa sebagai kaum intelektual sudah terdegradasi. Padahal mahasiswa adalah harapan rakyat sebagai regenerasi muda bangsa Indonesia. Akan tetapi, apa yang diinginkan oleh mahasiswa tidak sejalan dengan keinginan rakyat, bahkan rakyat menilai jika mahasiswa itu hanya bisa bertindak anarkis saja.

Sebagian besar mahasiswa di era sekarang ini, hanya mengejar gelar. Mahasiswa seakan-akan tidak peduli dengan segala kebutuhan masyarakat tehadap pemerintah. Hanya segelintir mahasiswa yang masih mau menyalurkan amanat dari masyarakat dengan cara yang baik.

Selain itu mahasiswa sekarang yang mengalami degradasi, baik dari segi intelektualisme, idealisme, patriotisme, maupun semangat jati diri mereka, cenderung untuk berpikir pragmatis dalam menghadapi persoalan. Hal tersebut terjadi karena pengaruh budaya barat yang tidak terkendali telah meracuni pemuda dan mahasiswa.

Kesimpulannya adalah peran mahasiswa sangat besar, namun mereka kurang sadar akan hal tersebut, sehingga mereka hanya dengan mudahnya menyelesaikan persoalan menggunakan emosi. Lepas dari pandangan buruk tentang mahasiswa, masih banyak mahasiswa yang menggunakan intelektualnya untuk ikut serta membangun masyarakat.

Handini Arga Damar RaniMahasiswa Teknik Informatika
Fakultas Teknik
Universitas Muria Kudus(//rfa)

Jumat, 17 Juni 2011

Tentukan Kiblat dengan Siku Bayangan Matahari

DOSEN ilmu Falak Fakultas Syariah Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Walisongo Semarang Slamet Hambali berhasil menemukan metode baru dalam penentuan arah kiblat tanpa menggunakan bantuan teknologi modern.

Metode tersebut hanya menggunakan bantuan segitiga siku-siku dari bayangan matahari. Metode penentuan arah kiblat itu dinamai dengan Metode Slamet Hambali, sesuai dengan nama penemunya, karena metode tersebut dinilai orisinil dan belum ada yang menerapkan. Walaupun tidak menggunakan alat seperti theodolit atau global positioning system (GPS) seperti dalam pengukuran biasanya, tapi metode baru ini juga mempunyai akurasi yang tepat.

“Kelemahan metode ini hanya tidak bisa digunakan pada malam hari, karena tidak ada bayangan matahari,” kata Slamet Hambali di sela Seminar bertema Uji Akurasi Metode Penentuan Arah Kiblat dengan Segitiga Siku-Siku Dari Bayangan Mataharidi kampus IAIN Walisongo Semarang kemarin.

Pakar ilmu falak ini mengemukakan, keakuratan metodenya itu sama halnya metode lainnya seperti theodolit ataupun GPS. Bahkan kalau dipersentase bisa 99,9 persen akurat. Sekali lagi kelemahan metode ini tidak bisa bekerja ketika malam ataupun saat mendung. "Namun metode ini lebih murah ketimbang menggunakan GPS atau software lainnya," jelasnya.

Dengan metode theodolit, untuk menentukan arah kiblat hanya bisa dilakukan pada jam-jam tertentu. Namun dengan metode Slamet Hambali, menentukan arah kiblat bisa dilakukan setiap saat. “Baik itu pagi, siang, dan sore asalkan masih ada matahari. Karena perhitungannya juga bergantung dari bayangan matahari,” tegasnya.

Wakil Ketua Lajnah PWNU Jateng itu menambahkan, metode ini tidak hanya bisa digunakan oleh orang Indonesia, tapi juga dari berbagai belahan dunia. Syaratnya, pengguna metode itu harus menguasai rumus-rumus matematika secara tepat. Metode ini ditemukan sejak Slamet melakukan penelitian pada 2010 lalu. Metode itu mulai diteliti ketika Hambali mengerjakan tesis S2. Metode ini pun sudah dipraktikkan untuk mengukur beberapa masjid besar di Jawa Tengah.

Menurut Hambali, berdasarkan pengecekan yang dia lakukan di masjid-masjid di Jawa Tengah, ternyata mayoritas arah kiblatnya melenceng dari yang sebenarnya. Keadaannya bervariasi, ada yang kurang ke arah utara, dan ada yang kurang dari arah selatan. ”Akan tetapi mayoritas kurang ke arah utara,” lanjutnya.

Dia mencontohkan, Masjid Agung Jepara arah kiblatnya kurang ke utara 004’, Masjid Agung Kota Magelang kurang ke utara 0055’, dan Masjid Agung Kendal kurang ke utara 100’.

Dari metode yang dia temukan ini, Hambali mengaku mendapatkan nilai 100 oleh para penguji tesisinya. “Oleh penguji saya waktu itu, metode saya dinyatakan sebagai penemuan yang orisinil tanpa menjiplak dari mana pun. Malah sebagai alternatif dari metode lain yakni theodolit dan GPS,” akunya.

Ketua Program Ilmu Falak Fakultas Syari’ah IAIN Walisongo, Arja’ Imroni mengemukakan, penemuan yang dilakukan oleh Slamet Hambali itu langsung dinobatkan hak paten sebagai penemuan program ilmu falak.

Dekan Fakultas Syariah IAIN Walisongo, Imam Yahya mengemukakan, metode yang ditemukan oleh Slamet Hambali itu rencananya akan segera dibukukan agar bisa dipelajari oleh masyarakat luas. “Kami sangat menghargai setiap penemuan semua dosen terutama yang menunjang keilmuan di Fakultas Syariah,” tuturnya.

Menurut Imam, sebenarnya banyak cara untuk menentukan arah kiblat, seperti penggunaan kompas, rubu’ mujayyab, dan sebagainya, namun belum tentu tepat akurasinya. Sedang cara lainnya yakni theodolit dan GPS bisa menghasilkan arah kiblat yang akurat. Hanya keberadaan alat yang cukup mahal dan tidak banyak orang yang dapat mengoperasikannya. (amin fauzi/sindo)(//rfa)

Pengetahuan Siswa Miskin RI Lebih Baik dari Siswa Inggris

INGGRIS - Apakah kemiskinan membuat orang bodoh? Apakah siswa dengan kondisi ekonomi lemah (miskin) nilai sekolahnya pasti buruk, akan terus mengalami kemiskinan dan susah mendapat pekerjaan?

Menurut penelitian yang dilakukan Organisasi Kerjasama Ekonomi dan Pembangunan atau Organisation for Economic Cooperation and Development (OECD), hal ini tidak akan terjadi jika para siswa rajin sekolah. Menurut penelitian terbaru yang dihelat OECD, siswa miskin di Indonesia memiliki pengetahuan lebih baik dibandingkan anak dengan kondisi sama di Inggris.

Penelitian ini dilakukan pada 2009 atas 65 negara OECD. Penelitian menguji kemampuan matematika, membaca, dan tes ilmu pengetahuan siswa usia 15 tahun. Dalam penelitian ini, Indonesia menempati peringkat 36, di atas Inggris (39) dan Jerman (42). Negara Asia Tenggara yang ada masuk daftar adalah Singapura di peringkat 5 dan Thailand (29). Namun penelitian tidak menjelaskan mana yang masuk kategori miskin. Demikian seperti dilansir dari BBC dan OECD, Sabtu (18/6/2011).

Data OECD menunjukkan, 31 persen anak miskin yang “ulet” di 65 negara berhasil meraih nilai rata-rata internasional dalam tes tersebut. Dalam penelitiannya, OECD berusaha mempelajari apakah siswa dengan kondisi ekonomi lemah mampu berhasil secara akademis.

Daftar lima besar siswa miskin yang nilainya baik dihuni perwakilan Asia yaitu Shanghai, Hong Kong, Korea Selatan, Macau-China, dan Singapura. Menurut data, lebih dari 70 persen siswa miskin di China dan Hong Kong melebihi standar OECD (31 persen). Sementara Amerika Serikat, Perancis dan Australia berada di peringkat 27, 22 dan 21. Tiga negara maju ini nilainya pas rata-rata OECD (31 persen).

Para peneliti mengidentifikasi sejumlah faktor yang meningkatkan ketahanan para siswa di tengah kemiskinan mereka. Disebutkan bahwa rasa percaya diri merupakan faktor kunci yang membuat para siswa yakin bisa berhasil.

Penelitian ini juga menyimpulkan bahwa mentoring sangat bermanfaat dalam pendidikan. Ditemukan juga bahwa kemampuan siswa miskin meningkat jika mendapat jam belajar tambahan di kelas. Selain itu, motivasi merupakan hal yang penting. Karena itu, sekolah lebih baik memotivasi para siswa ketimbang memberikan janji berupa hadiah atau insentif.

“Penelitian ini menunjukkan bahwa sekolah memiliki peran penting dalam meningkatkan ketahanan siswa miskin. Negara-negara ini bisa menyediakan lebih banyak kesempatan bagi siswa kurang beruntung belajar di kelas dengan mengembangkan kegiatan, praktik serta metode pengajaran yang mendorong motivasi belajar dan memupuk dan kepercayaan diri para siswa,” tulis laporan ini.(rfa)

Kamis, 16 Juni 2011

Beasiswa Bidik Misi Akan Dinaikkan

JAKARTA - Selain meningkatkan kuota penerima beasiswa Bidik Misi, Kementerian Pendidikan Nasional (Kemendiknas) juga akan menaikkan besaran beasiswa yang diterima tiap siswa.

Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi (Dirjen Dikti) Kemendiknas Djoko Santoso menjelaskan, besaran beasiswa bagi siswa miskin berprestasi juga akan ditambah, namun Djoko belum mau mengungkapkannya. Alasannya masih dalam pembahasan.

Djoko memaparkan, pada 2010 beasiswa yang diberikan per anak mencapai Rp10 juta sedangkan 2011 naik menjadi Rp12,5 juta. Kenaikan itu, terangnya, disesuaikan dengan inflasi dan kenaikan harga kebutuhan bahan pokok.

Djoko menjelaskan, jika besaran itu masih kurang untuk menutupi biaya pendidikan mahasiswa bersangkutan, maka pengelola perguruan tinggi wajib menutupinya. Kemendiknas, tegasnya, melarang keras apabila rektorat membebani kekurangan tersebut kepada mahasiswa. Pasalnya, di UU Sisdiknas No 20/2003 pasal 12 menyebutkan bahwa setiap peserta didik pada setiap satuan pendidikan berhak mendapatkan beasiswa bagi yang berprestasi yang orang tuanya tidak mampu membiayai pendidikannya.

Selanjutnya di PP No 48/2008 tentang Pendanaan Pendidikan Pasal 27 menyebutkan bahwa pemerintah dan pemerintah daerah sesuai kewenangannya memberi bantuan biaya pendidikan atau beasiswa kepada peserta didik yang orang tua atau walinya serta kepada siswa yang berprestasi yang tidak mampu membiayai pendidikannya.

Jumlah perguruan tinggi negeri yang sedianya menerima beasiswa tersebut mencapai 88 unit. Djoko menjelaskan, memang ada penambahan jumlah perguruan negeri karena Kemendiknas beberapa waktu lalu mengubah status lima perguruan tinggi swasta menjadi negeri, salah satunya Universitas Musamus di Papua. Tahun ini Kemendiknas kembali akan menegerikan beberapa perguruan swasta di antaranya satu universitas dan satu politeknik di Riau, Sulawesi Selatan, dan Kalimantan Timur.

Anggota Komisi X DPR Itet Tridjajati Sumarijanto mengakui adanya kenaikan pagu indikatif 2012 untuk beasiswa miskin. “Bahkan anggarannya naik tinggi,” ungkapnya.

Namun kenaikan anggaran ini harus dibarengi dengan mekanismenya yang sesuai aturan sehingga tepat sasaran. Selain itu, banyak pengaduan data kuota 20 persen mahasiswa miskin apakah sesuai dengan kualifikasi atau tidak. “Karena jumlahnya banyak, apakah akan terserap dengan baik atau tidak,” tukas politikus dari Fraksi Partai Demokrat ini.